Luka Diakhir Tahun

waktu baca 4 menit
Kamis, 1 Jan 2026 12:25 342 Nalar Timur

Setiap akhir tahun selalu datang dengan dua wajah. Yang pertama adalah wajah perayaan: lampu-lampu warna-warni, hitung mundur, doa-doa yang dirapal tergesa, serta harapan yang dituliskan seolah dunia akan benar-benar berubah saat kalender diganti.

Wajah kedua adalah wajah yang lebih sunyi: ingatan yang menumpuk, kegagalan yang belum selesai, luka-luka yang belum sembuh, dan pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban. Di sanalah luka di akhir tahun berdiam—tidak berisik, tetapi terasa.

Akhir tahun tidak pernah netral. Ia adalah ruang evaluasi kolektif yang sering kali tidak adil. Kita dipaksa mengukur hidup dengan angka-angka: capaian, pencapaian, target yang terlampaui atau gagal diraih. Media sosial memperparahnya.

Timeline dipenuhi rekap prestasi, perjalanan liburan, pencapaian karier, dan senyum-senyum yang terlihat utuh. Di tengah arus itu, banyak orang memilih diam. Bukan karena tidak punya cerita, tetapi karena ceritanya terlalu perih untuk dipamerkan.

Luka sebagai Ingatan yang Tidak Pergi

Luka di akhir tahun bukan sekadar perasaan sedih yang musiman. Ia adalah ingatan yang menolak pergi. Ia hadir dari peristiwa-peristiwa kecil yang diabaikan: janji yang tak ditepati, keadilan yang tertunda, suara yang dibungkam, atau mimpi yang dipaksa mengalah oleh kenyataan.

Dalam konteks sosial, luka itu menjelma pada masyarakat yang sepanjang tahun disuguhi harapan palsu—tentang kesejahteraan, tentang pembangunan, tentang perubahan—namun menutup tahun dengan rasa ditinggalkan.

Sastra mengenal luka sebagai energi penciptaan. Banyak karya besar lahir dari kegelisahan, keterasingan, dan rasa kehilangan. Namun dalam kehidupan sehari-hari, luka sering kali dipaksa untuk segera disembuhkan, ditutup, atau bahkan disangkal. “Tidak apa-apa,” kata kita, sambil mengubur perasaan. Padahal luka yang tidak diakui justru akan tumbuh menjadi trauma yang lebih dalam.

Akhir tahun menjadi momen ketika luka-luka itu bangkit. Ia muncul saat kita menatap kembali catatan harian, melihat ulang foto-foto lama, atau sekadar duduk sendirian di malam hujan. Luka itu bertanya: Apakah kau benar-benar hidup sepanjang tahun ini, atau hanya bertahan?

Antara Harapan dan Kepalsuan Optimisme

Ada semacam kewajiban sosial untuk optimistis di akhir tahun. Seolah bersedih adalah tindakan subversif. Padahal, optimisme yang dipaksakan sering kali hanyalah bentuk penyangkalan. Kita diajari untuk segera “move on”, tanpa pernah diajak memahami apa yang sebenarnya kita tinggalkan.

Dalam masyarakat yang kerap memuja kecepatan, luka dianggap hambatan. Padahal luka adalah jeda. Ia memaksa kita berhenti, menoleh, dan mengakui bahwa ada sesuatu yang salah. Tanpa luka, refleksi menjadi dangkal; tanpa refleksi, harapan berubah menjadi slogan kosong.

Di sinilah sastra memainkan perannya. Sastra tidak menawarkan solusi instan, tetapi menyediakan ruang aman untuk merasakan. Dalam puisi, cerpen, atau esai, luka diberi bahasa. Ia tidak disuruh sembuh, tetapi dipeluk, dipahami, dan diberi tempat. Sastra mengajarkan bahwa tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja, terutama di akhir tahun.

Luka Kolektif dan Ingatan Sosial

Luka di akhir tahun juga bersifat kolektif. Ia hidup dalam ingatan sosial: tentang bencana yang tak sepenuhnya ditangani, tentang konflik yang diselesaikan setengah hati, tentang korupsi yang berulang tanpa rasa malu. Masyarakat belajar hidup berdampingan dengan ketidakadilan, hingga luka itu terasa biasa—dan justru di situlah bahayanya.

Ketika luka menjadi normal, empati menipis. Kita menjadi penonton dari penderitaan orang lain, sekadar menggulir layar, memberi komentar singkat, lalu melanjutkan hidup. Akhir tahun datang, dan kita menutupnya dengan resolusi pribadi, tanpa pernah menyentuh luka bersama yang seharusnya disembuhkan secara kolektif.

Sastra, sekali lagi, menolak lupa. Ia mencatat apa yang ingin dihapus, mengingatkan apa yang ingin dilupakan. Dalam opini sastra, luka bukan hanya milik “aku”, tetapi “kita”. Luka menjadi alat kritik, bukan untuk meratap tanpa arah, tetapi untuk menagih tanggung jawab.

Berdamai dengan Luka, Bukan Menghapusnya

Berdamai dengan luka bukan berarti melupakannya. Ia berarti mengakui keberadaannya dan belajar hidup dengannya. Akhir tahun memberi kesempatan langka untuk itu—bukan melalui pesta, tetapi melalui keheningan. Di sanalah kita bisa bertanya dengan jujur: apa yang benar-benar hilang tahun ini? Dan apa yang masih tersisa untuk dijaga?

Mungkin kita tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Tidak apa-apa. Sastra tidak menuntut kepastian. Ia hanya meminta kejujuran. Bahwa di balik kembang api dan hitung mundur, ada hati yang retak, ada doa yang belum terkabul, dan ada harapan yang masih tertatih.

Luka di akhir tahun bukan akhir dari segalanya. Ia adalah penanda bahwa kita masih merasa, masih peduli, masih manusia. Justru yang paling menakutkan bukanlah luka, melainkan ketidakmampuan untuk merasakannya.

Tahun Berganti, Luka Tetap Mengajar

Ketika tahun berganti, kalender baru mungkin akan digantung, resolusi baru dituliskan. Namun luka tidak serta-merta ikut berganti. Ia akan tetap ada, mungkin dengan bentuk yang berbeda. Pertanyaannya bukan apakah luka itu akan hilang, tetapi apakah kita mau belajar darinya.

Dalam kesunyian akhir tahun, mari beri ruang bagi luka untuk berbicara. Dengarkan tanpa menghakimi. Sebab dari luka itulah lahir kesadaran, dan dari kesadaran itulah harapan yang lebih jujur bisa tumbuh. Bukan harapan yang dipoles, tetapi harapan yang tahu betul betapa rapuhnya hidup—dan tetap memilih untuk bertahan.

Akhir tahun memang selalu membawa luka. Tetapi selama kita masih mampu menuliskannya, membacanya, dan merasakannya, luka itu tidak akan sia-sia. (*)

 

Ditulis oleh: Redaksi Nalartimur

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA