Menjaring Harap di Laut Patani

waktu baca 2 menit
Minggu, 18 Jan 2026 15:41 140 Nalar Timur

Halmahera Tengah, Nalartimur — Di ufuk Patani, seorang nelayan menantang samudera. Lebih dari 35 tahun, tubuh yang kini renta itu setia bergulat dengan gulungan ombak di Pasifik.

‎Ia tak gentar, meski surya saban hari memanggang kulitnya hingga legam. Bahaya telah lama menjadi kawan.

Demi menyambung hidup keluarga, laut adalah ruang pengabdian sekaligus pertaruhan.

‎Namun, di balik nyala semangat yang tak pernah padam, tersimpan rintihan pilu bagi jeritan nelayan kecil yang kerap luput dari pandangan penguasa.

Ia adalah Sinen Sambiki, komandan nelayan Desa Yondeliu, Kecamatan Patani, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Pria paruh baya itu sejak lama menggantungkan harapan pada laut.

Dari bibir pantai, matanya menatap luas samudera dengan hati yang rapuh.

Melaut baginya kini bukan semata mencari nafkah, melainkan perjuangan melawan mahalnya kebutuhan hidup dan sikap abai pemerintah.

“Sudah lama saya menjalani profesi ini. Namun hingga kini, belum ada bantuan perahu maupun alat pancing,” tuturnya lirih, Minggu (18/1/2026), dengan menunggu secercah perhatian yang tak kunjung datang.

‎Di sela penantian itu, ia menaruh harapan pada sosok yang disebutnya IMS ADIL atau Bupati dan Wakil Bupati Halmahera Tengah yang katanya berpihak pada rakyat kecil.

‎”Kebutuhan kami hanya satu, yakni perhatian dari pemerintah daerah,” katanya pasrah, dengan menggambarkan nasib sekitar 20 nelayan yang berada di bawah koordinasinya.

Nada suaranya mengeras saat kritik dilontarkan, mencerminkan getir kehidupan pesisir.

“Kalau bukan kami, ikan di pasar tidak ada,” ujarnya, sembari mempertanyakan posisi nelayan dalam rantai pangan yang kerap terabaikan.

Saat azan subuh menggema, ia kembali memacu perahu sewaan, menempuh puluhan mil ke tengah laut.

Sebanyak 25 liter bahan bakar menjadi beban wajib, membawa harapan tujuh nelayan lain yang menggantungkan hidup pada layar pinjaman.

‎Di tengah peluh dan kelelahan, Sinen menyinggung dugaan persoalan penyaluran bantuan yang dinilai belum tepat sasaran di tingkat desa.

‎Ia berharap aparat penegak hukum dapat menjalankan fungsi pengawasan secara adil dan transparan.

“Hasil pancing makin menurun. Kami butuh tempat penampungan dan fasilitas pengawet ikan,” keluhnya.

Harapan itu ditujukan agar hasil tangkapan nelayan bisa menembus pasar perusahaan, termasuk di kawasan pertambangan.

Namun kenyataan berkata lain. Harga bahan bakar yang terus merangkak naik, ditambah peran para tengkulak, kerap memangkas keuntungan nelayan hingga nyaris tak cukup untuk bertahan hidup.

‎Di bentangan pasir panjang Patani, harapan itu kian menipis. Nelayan kecil bertahan di antara ganasnya ombak dan kerasnya tekanan ekonomi.

Mereka memahat asa di atas samudera, menanti keadilan yang di harapkan hadir sebelum perahu-perahu tua itu benar-benar karam dimakan waktu. (Abi)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA