Ketika Kehilangan Semangat Menjadi Tren: Memahami Lost Spark di Kalangan Remaja
Oleh: Bellarosita Faisal, S.Pd.
Refleksi Hari Kesehatan Mental Sedunia, 10 Oktober 2026
——————
Pernahkah hal-hal yang dahulu membuat kita bahagia tiba-tiba terasa biasa saja? Kegiatan yang sebelumnya dinantikan kini mulai terasa hambar.
Kita tetap menjalani hari seperti biasa, bertemu orang-orang, bahkan sesekali tertawa. Namun, semangat yang dahulu mudah muncul kini terasa semakin menjauh. Kita ingin kembali bersemangat, tetapi tidak selalu tahu harus memulainya dari mana.
Belakangan ini, pengalaman semacam itu kerap disebut lost spark di media sosial. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan hilangnya semangat, antusiasme, atau ketertarikan terhadap sesuatu yang sebelumnya terasa menyenangkan. Bagi sebagian anak muda, istilah ini terasa dekat karena seolah mampu mewakili perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Menemukan istilah untuk memahami perasaan sendiri bukanlah hal yang keliru. Mengetahui bahwa orang lain juga mengalami hal serupa dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian.
Namun, ketika istilah psikologi semakin populer, ada satu hal yang patut direnungkan: apakah kita benar-benar semakin mengenal diri sendiri, atau justru terlalu cepat menyimpulkan keadaan diri berdasarkan apa yang kita lihat di layar?
Pertanyaan ini menjadi penting ketika kita membicarakan remaja. Masa remaja bukan sekadar peralihan dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan, melainkan periode ketika seseorang mulai mempertanyakan siapa dirinya, apa yang diinginkannya, dan bagaimana ia ingin menjalani kehidupan.
Ada pertanyaan yang mungkin tidak selalu diucapkan, tetapi perlahan muncul dalam pikiran: apakah pilihan ini benar-benar keinginanku? Apakah aku sudah cukup baik? Akan menjadi seperti apa diriku kelak?
Psikolog Erik Erikson menjelaskan bahwa salah satu tantangan penting dalam perkembangan psikososial remaja adalah pembentukan identitas, yang dikenal sebagai identity vs. role confusion atau identitas versus kebingungan peran (Erikson, 1968).
Pada tahap ini, remaja berusaha memahami nilai-nilai yang diyakini, mengenali keinginan pribadi, dan menemukan perannya di tengah lingkungan sosial. Proses tersebut tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya seseorang merasa yakin dengan pilihannya, tetapi pada waktu yang lain kembali meragukan kemampuan dan arah hidupnya.
Dalam proses tersebut, kebingungan tidak selalu berarti kegagalan. Remaja sedang belajar membedakan keinginan diri sendiri dari harapan orang lain, mencoba berbagai pengalaman, dan memahami bahwa dirinya masih dapat berubah.
Mereka mungkin memiliki banyak keinginan, tetapi belum sepenuhnya mengetahui mana yang benar-benar ingin diperjuangkan. Karena itu, perubahan minat atau munculnya keraguan tidak serta-merta menunjukkan adanya masalah psikologis.
Lantas, bagaimana lost spark dapat dipahami dalam proses perkembangan tersebut? Kehilangan semangat tidak otomatis berarti seorang remaja sedang mengalami kebingungan identitas.
Lost spark bukanlah diagnosis klinis dan dapat berkaitan dengan berbagai keadaan. Meski demikian, istilah ini dapat menjadi pintu masuk untuk memahami pengalaman remaja yang merasa kehilangan arah, mempertanyakan keinginannya, atau mulai merasa jauh dari hal-hal yang dahulu disukai.
Situasi ini dapat menjadi semakin rumit ketika remaja terus-menerus melihat gambaran kehidupan orang lain di media sosial. Pencapaian, pertemanan, penampilan, dan kebahagiaan seolah hadir setiap saat.
Sebagian anak muda mungkin merasa tertinggal ketika melihat orang lain tampak telah mengetahui tujuan hidupnya, sementara dirinya masih dipenuhi keraguan.
Padahal, apa yang ditampilkan di layar hanyalah sebagian dari kehidupan seseorang. Kita tidak selalu mengetahui perjuangan yang tersembunyi di balik pencapaian ataupun senyum yang diperlihatkan.
Media sosial tentu bukan satu-satunya penyebab persoalan ini. Ruang digital juga dapat membantu remaja memperoleh informasi, menemukan komunitas, dan merasa terhubung dengan orang lain.
Namun, konten tentang lost spark yang terasa dekat dengan pengalaman pribadi belum tentu menjelaskan penyebab perasaan seseorang secara utuh.
Merasa terwakili oleh sebuah istilah dapat menjadi langkah awal untuk mengenali diri, tetapi bukan berarti kita telah memahami seluruh keadaan yang sedang dialami.
Kehilangan semangat dapat berkaitan dengan kelelahan, konflik dengan orang terdekat, tekanan hidup, perubahan minat, atau persoalan kesehatan mental yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
World Health Organization (WHO, 2025) menjelaskan bahwa kesehatan mental remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan keluarga, hubungan dengan teman sebaya, tekanan sosial, dan pengalaman hidup.
Oleh karena itu, perasaan seseorang perlu dipahami berdasarkan konteks kehidupannya, bukan semata-mata melalui istilah yang sedang populer.
Tidak setiap hari yang buruk berarti seseorang mengalami gangguan mental. Ada kalanya manusia memang membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Namun, hilangnya minat atau kesenangan yang berlangsung terus-menerus, disertai perubahan pola tidur atau nafsu makan, kesulitan berkonsentrasi, perasaan tidak berharga, atau gangguan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, perlu mendapat perhatian.
Gejala-gejala tersebut dapat berkaitan dengan masalah kesehatan mental, termasuk depresi. Meski demikian, penilaian tenaga profesional tetap diperlukan untuk memahami kondisi seseorang secara menyeluruh.
Lalu, apa yang dapat dilakukan ketika semangat terasa menjauh? Mungkin, langkah pertama bukanlah memaksa diri untuk segera kembali seperti dahulu, melainkan memberikan ruang untuk memahami perubahan yang sedang terjadi.
Kita dapat memulainya dengan bertanya kepada diri sendiri: apa yang sebenarnya membuatku lelah? Apakah aku masih menikmati hal-hal yang kulakukan, atau sekadar menjalankannya karena merasa harus? Dukungan seperti apa yang kubutuhkan saat ini?
Jawabannya mungkin tidak langsung ditemukan. Menjaga waktu istirahat, menuliskan perasaan, kembali melakukan aktivitas yang menyenangkan, dan berbicara dengan orang tepercaya dapat menjadi langkah awal.
Apabila keadaan tersebut menetap, semakin berat, atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan dari psikolog, psikiater, dokter, atau tenaga kesehatan yang kompeten merupakan langkah yang patut dipertimbangkan.
Kita juga dapat mengambil peran dengan tidak terburu-buru menyebut seseorang malas, berlebihan, atau kurang kuat. Terkadang, seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang, melainkan kesempatan untuk bercerita tanpa dihakimi atau dibandingkan dengan orang lain.
Pertanyaan sederhana seperti, “Kamu sedang menghadapi sesuatu?” atau “Mau cerita?” dapat menjadi awal bagi seseorang untuk merasa didengarkan.
Pada peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia, 10 Oktober, kesadaran tentang kesehatan mental seharusnya tidak berhenti pada istilah yang ramai dibagikan di media sosial.
Kesadaran yang lebih bermakna tumbuh ketika kita berusaha memahami bahwa setiap orang memiliki pengalaman dan perjalanan perkembangan yang berbeda.
Tidak semua remaja menemukan arah hidup pada waktu yang sama, dan tidak semua perubahan dalam diri harus dianggap sebagai sesuatu yang salah.
Kehilangan semangat tidak selalu berarti seseorang kehilangan dirinya. Bisa jadi, ia sedang berusaha memahami siapa dirinya di tengah perubahan yang tidak mudah. Namun, perasaan tersebut juga tidak seharusnya diromantisasi atau dianggap sepele.
Remaja membutuhkan ruang untuk bertumbuh, kesempatan untuk mengenali keinginan sendiri, dan lingkungan yang membuat mereka merasa aman ketika sedang mengalami kebingungan.
Sebab, bertumbuh bukanlah tentang selalu mengetahui ke mana harus melangkah. Terkadang, pertumbuhan justru dimulai ketika seseorang berani mengakui bahwa ia belum tahu, lalu perlahan belajar memahami dirinya sendiri.
Nalar Timur
Diterbitkan: 11 Oktober 2026 pukul 17.41
