Dua Sampel Air Terjun di Kawasi Catat Kromium Heksavalen di Atas Nilai Acuan
WALHI Maluku Utara paparkan hasil temuan kadar air di kawasan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Nalartimur — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara melaporkan temuan konsentrasi kromium heksavalen (Cr(VI)) yang melampaui nilai acuan pada dua sampel air terjun di Desa Kawasi, Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Berdasarkan hasil pengujian laboratorium yang dilakukan dalam penelitian selama lima bulan, sejak Mei hingga September 2026, konsentrasi Cr(VI) pada kedua sampel tersebut tercatat mencapai 1,04 miligram per liter (mg/L) dan 0,699 mg/L.
Dalam siaran pers yang diterima Nalartimur.com pada Kamis, 15 Oktober 2026, WALHI Maluku Utara menyampaikan bahwa penelitian tersebut meliputi pengambilan sampel air, pengujian laboratorium, dan penyusunan laporan analisis.
Pengujian tersebut dilakukan untuk mengukur empat parameter logam berat, yakni kromium heksavalen, merkuri (Hg), kobalt (Co), dan nikel (Ni).
Pengambilan sampel dilakukan di 12 titik, terdiri atas enam titik perairan pesisir laut, dua titik di Sungai Akelamo, dua titik air terjun, dan dua sumur warga.
Hasil pengujian selanjutnya dibandingkan dengan nilai acuan sesuai ketentuan yang digunakan untuk masing-masing jenis air.
Berdasarkan hasil pengujian, sampel air terjun berkode AT 1 menunjukkan konsentrasi Cr(VI) sebesar 1,04 mg/L, sedangkan sampel AT 2 sebesar 0,699 mg/L.
Kedua hasil tersebut melampaui nilai acuan 0,05 mg/L yang digunakan WALHI dalam evaluasinya. Konsentrasi Cr(VI) pada sampel AT 1 tercatat sekitar 20,8 kali nilai acuan, sedangkan pada sampel AT 2 sekitar 14 kali.
Namun, hasil pengujian tersebut belum dapat memastikan sumber maupun penyebab keberadaan kromium heksavalen di kedua lokasi pengambilan sampel.
Sementara itu, hasil pengujian terhadap enam sampel air laut, dua sampel air Sungai Akelamo, dan dua sampel air sumur menunjukkan konsentrasi Cr(VI) di bawah 0,005 mg/L.
Konsentrasi merkuri pada seluruh sampel juga tercatat di bawah 0,00005 mg/L. Adapun kadar kobalt dan nikel masing-masing dilaporkan di bawah 0,001 mg/L.
WALHI menjelaskan bahwa tanda “kurang dari” dalam hasil laboratorium menunjukkan konsentrasi parameter yang diuji berada di bawah batas pelaporan metode pengujian.
”Hasil tersebut tidak dapat diartikan bahwa kandungan zat yang diuji sama dengan nol,” ujar WALHI.
Dalam evaluasinya, WALHI menyatakan tidak menemukan parameter yang melampaui nilai acuan numerik pada sampel air laut, sungai, dan sumur.
“Namun, khusus parameter kobalt pada sampel air laut dan air sumur, WALHI tidak melakukan perbandingan numerik karena tidak tersedia nilai acuan yang digunakan dalam ketentuan terkait,” pungkasnya.
Temuan tersebut menjadi dasar bagi perlunya perhatian lebih lanjut terhadap konsentrasi Cr(VI) pada dua sampel air terjun di Kawasi.
WALHI menambahkan hasil pengujian laboratorium dan perbandingan dengan nilai acuan tersebut belum dengan sendirinya membuktikan sumber pencemaran maupun pihak yang bertanggung jawab.
Pemantauan dan pengujian lanjutan diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi, sebaran, dan pola konsentrasi kromium heksavalen di wilayah tersebut.
Hasbi Ade
Diterbitkan: 15 Oktober 2026 pukul 23.30
