Tanah yang Bernapas Logam: Sebuah Kisah dari Halmahera Tengah

waktu baca 4 menit
Minggu, 15 Feb 2026 17:58 125 Nalar Timur

Oleh: Bambang Idris | Pegiat Literasi Loga-Loga

Di ujung timur Indonesia, yang peta-petanya sering dilipat terlalu cepat oleh pejabat-pejabat di ibu kota, terhampar sebuah kabupaten yang tanahnya berkilau seperti menyimpan rahasia purba, yakni Halmahera Tengah. Di sana, laut berwarna pirus memeluk daratan dengan sabar, sementara bukti-bukti menyimpan nikel di dalam perutnya seperti kenangan yang eggan terlupakan.

Konon, jauh sebelum kapal-kapal baja berlabuh dan pabrik menulis asapnya di langit, orang-orang tua di kampung percaya bahwa tanah itu bernapas. Mereka mengatakan setiap kali hujan turun terlalu deras atau matahari bersinar terlalu lama, itu bukan cuaca, melainkan cara bumi berbicara tentang nasibnya sendiri. Dan memang, sejak tambang-tambang berdiri, hujan sering turun dengan cara yang aneh-kadang seperti tirai tipis yang enggan berhenti, kadang seperti ratapan yang jauh sekaligus.

Di sebuah rumah kayu yang dindingnya menghadap laut, tinggal seorang lelaki tua bernama Musa yang setiap sore duduk memandang kapal-kapal pengangkut bijih nikel. Ia tidak pernah menghitung berapa ton yang pergi meninggalkan pulau, sebab baginya yang lebih penting adalah menghitung berapa anak mudah yang ikut pergi bersama kapal-kapal itu, merantau bukan ke kota, tetapi ke dalam jadwal kerja yang berputar siang dan malam tanpa mengenal musim cengkeh atau musim ikan.

‘’Dulu,’’ katanya suatu sore ketika angin membawa bau logam yang samar,’’ laut ini hanya berbau garam dan rumput laut. Sekarang ia juga berbau janji’’.

Orang-orang tidak pernah benar-benar tahu apakah yang ia maksud adalah janji kesejahteraan atau janji yang lupa ditepati. Namun, setiap kali Musa berbicara, ayam-ayam berhenti mematuk tanah, dan bahkan ombak seperti menahan diri agar tidak memotong kalimatnya.

Di pasar kecil yang tumbuh lebih cepat dari pohon kelapa, harga-harga berubah seperti nasib dalam cerita rakyat. Beras bisa naik hanya karena sebuah kapal terlambat, dan ikan bisa menjadi mahal ketika para nelayan memilih bekerja di darat, tergoda oleh upah yang datang tepat waktu seperti matahari terbit.

Para ibu menyimpan uang di kaleng biskuit sambil berbisik bahwa reziki tambang harus dijaga jangan sampai berubah menjadi kutukan, sebab mereka pernah mendengar dari sepupu yang menikah dengan lelaki dari pulau seberang bahwa tanah yang terlalu sering digali bisa lupa cara menumbuhkan ubi.

Namun Halmahera Tengah bukan hanya tentang tambang. Ia juga tentang pagi yang lahir dari balik Gunung Weda dengan cahaya yang begitu bersih seolah dunia baru saja diciptakan. Ia tentang anak-anak yang berenang di sungai dengan tawa yang melompati batu-batu licin. Ia tentang doa-doa yang naik dari mesjid kecil sederhana, bercampur dalam udara yang sama tanpa pernah saling mengganggu.

Suatu malam, listrik padam lebih lama dari biasanya. Orang-orang keluar rumah, duduk di bawah langit yang dipenuhi bintang. Tanpa suara mesin dan tanpa gemuruh proyek, mereka mendengar sesuatu yang sudah lama hilang: bunyi serangga, desir anggin dan detak jantung mereka sendiri.

Seorang anak kecil bertanya kepada ayahnya apakah bintang-bintang itu juga terbuat dari nikel. Ayahnya tertawa pelan dan menjawab bahwa bintang terbuat dari harapan yang tidak bisa ditambang siapa pun. Di kantor bupati yang dindingnya dingin oleh pendingin ruangan, angka-angka pertumbuhan ekonomi sering disebut dengan bangga.

Persentase naik seperti layang-layang yang dilepaskan pada musim angin timur. Tetapi di kampung-kampung, orang-orang mengukur pertumbuhan dengan cara yang berbedah: berapa rumah yang kini beratap seng baru, berapa anak yang bisa kulia ke Ternate atau Makassar, dan berapa banyak kebun yang masih tersisah setelah jalan-jalan lebar dibuka.

Kadang-kadang, pada senja terlalu merah, bayangan cerobong pabrik memanjang hingga menyentuh laut. Bayangan itu tampak seperti jari raksasa yang mencoba meraih cakrawala. Namun laut selalu lebih sabar dari apa pun; ia menerima kapal, menerima limbah kecil yang tak terlihat, menerima doa dan keluhan, lalu mengembalikan dalam bentuk ombak yang tak pernah sama.

Orang-orang Halmahera Tengah hidup di antara dua waktu: waktu tambang yang bergerak cepat seperti mesin, dan waktu kampung yang berjalan lambat seperti perahu dayung. Mereka belajar menyeimbangkan keduanya, seperti penari yang menapak di atas papan sempit di antara dua jurang. Dan setiap kali sesorang bertanya apakah tambang akan membawa berkah atau petakah, para orang tua hanya tersenyum samar, seolah telah membaca akhir cerita yang belum sempat ditulis.

Sebab tanah yang kaya ini, masa depan tidak pernah datang sendiri. Ia selalu membawa bayangan masa lalu, dan keduanya duduk berdampingan di beranda rumah-rumah kayu, menunggu angin malam memutuskan kisah mana yang akan diceritakan esok hari. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA