Oleh: Sulastri Mahmud
“Gae re gele fdadele re ftabtube ame ronta kfasalamat pnu re boten e. Mulai po batbete, woye, banga, bongo alam Sagea kiya nje.”
Untaian kalimat itu kerap diucapkan oleh perempuan-perempuan Sagea sebelum mereka melangkah melawan industri pertambangan yang kini mengancam kampung mereka. Larik bersahaja tersebut mengingatkan seluruh warga Sagea bahwa bentang alam Sagea merupakan warisan yang harus dijaga oleh siapa saja yang mengaku berasal dari Sagea dan menikmati segala yang diberikan oleh alam Sagea di Maluku Utara.
Dalam bahasa Indonesia, larik doa tersebut bermakna: “Kakek dan nenek leluhur, teruslah bersama kami hingga kami mampu menyelamatkan kampung halaman kami. Tanah, air, hutan, dan seluruh alam Sagea kiya.”
Di Garis Depan Perjuangan
Di tengah intimidasi hingga ancaman kriminalisasi, saya bersama perempuan-perempuan lain di Sagea, termasuk Mama Cia, kini berdiri di garis depan perjuangan mempertahankan ruang hidup kami.
Bagi saya, melawan tambang bukanlah sesuatu yang baru dimulai sekarang. Kesadaran itu tumbuh sejak saya masih menjadi mahasiswa di Ternate pada 2017. Saat itu saya diperkenalkan oleh senior-senior di Ikatan Pelajar Mahasiswa Sagea Kiya pada gerakan yang sejak awal menolak ekspansi pertambangan di Halmahera Tengah.
Melalui diskusi bersama kawan-kawan mahasiswa di Ternate, saya mulai memahami bagaimana industri pertambangan perlahan menguasai wilayah Teluk Weda. Namun pengalaman paling kuat sebenarnya saya rasakan jauh sebelum masa kuliah.
Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, saya telah melihat kerusakan yang ditimbulkan oleh aktivitas tambang di daerah-daerah tetangga. Sebagai warga Sagea, saya tidak ingin kawasan karst di sekitar Telaga Yonelo dan Bukit Meruru habis dihancurkan oleh ekspansi tambang.
Dua kawasan itu, bagi saya dan warga Sagea pada umumnya, merupakan wilayah penting yang kini berada dalam ancaman. Karena itu, langkah awal yang kami lakukan bukan hanya aksi protes. Kami juga berusaha merawat ingatan masyarakat tentang alam Sagea yang dahulu masih rimbun dan menjaga seluruh semesta kehidupan di dalamnya. Kini sebagian dari hutan itu telah berubah menjadi gundul.
Keberanian kami, perempuan-perempuan Sagea, untuk melawan tambang berangkat dari kesadaran sederhana: wilayah Sagea adalah salah satu bentang alam yang tersisa di Teluk Weda. Jika bukan kami yang melawan, lalu siapa lagi?
Kedekatan Perempuan dengan Alam
Sebagai perempuan, kami memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan alam. Kami menyadari bahwa tanah, air, dan hutan merupakan sumber kehidupan sehari-hari. Kami tahu bagaimana Telaga Yonelo menyediakan sumber pangan bagi warga. Kami juga memahami bahwa Bukit Meruru menyediakan sumber air yang tak pernah habis serta melindungi kami dari kekeringan. Alam Sagea menyediakan udara bersih untuk bernapas tanpa polusi dari aktivitas industri.
Kesadaran itulah yang membuat kami memilih untuk bersuara dan terus berjuang agar wilayah-wilayah penting bagi kehidupan kami tidak dirampas. Meski kami juga menyadari bahwa ada risiko besar yang harus dihadapi ketika memilih jalan perjuangan ini.
Melawan ekspansi tambang secara terbuka membawa risiko yang tidak kecil. Intimidasi, teror psikis maupun fisik, hingga ancaman kriminalisasi kini menjadi bagian dari pengalaman yang kami hadapi. Namun kami terus berusaha untuk tetap tegar.
Dalam setiap langkah perjuangan, kami selalu mengingat para leluhur. Ada satu seruan yang sering kami ucapkan ketika hendak melawan tambang: bahwa setiap air mata yang jatuh adalah panggilan dari para tetua, dan setiap amarah yang bangkit adalah amanah dari leluhur.
Kami tidak takut pada sistem yang menekan kami. Yang kami takutkan justru jika para leluhur mengutuk kami karena memilih diam ketika tanah, air, dan hutan yang diwariskan kepada kami dirusak oleh tangan-tangan yang tamak.
Perlawanan Berakar dari Kampung
Perlawanan yang kami lakukan tidak hanya melalui aksi demonstrasi. Di kampung, kami juga berusaha menumbuhkan kesadaran generasi muda dengan memperkenalkan kembali sejarah kampung kepada anak-anak dan para pemuda.
Kami rutin mengadakan diskusi mengenai ancaman lingkungan yang dapat merusak alam Sagea. Upaya merawat ingatan ini menjadi bagian penting dari perjuangan kami. Bagi kami, perempuan Sagea, menjaga ingatan tentang alam berarti menjaga masa depan kampung.
Merawat ingatan dan pengetahuan mengenai tanah, hutan, serta sejarah asal-usul warga Sagea adalah cara kami melawan, agar generasi muda tidak melupakan akar kehidupan mereka yang menyatu dengan ruang hidup Sagea.
Perjuangan ini tentu tidak selalu mudah. Ibu saya sering merasa khawatir terhadap aktivitas yang saya lakukan. Namun di balik kekhawatiran itu, keluarga saya tetap memberikan dukungan. Mereka memahami bahwa perjuangan ini bukan sekadar penolakan terhadap tambang, tetapi juga upaya mempertahankan kehidupan kampung.
Di tengah komunitas Sagea sendiri, dukungan juga tidak sepenuhnya seragam. Ada warga yang mendukung perjuangan kami, tetapi ada pula yang berpihak pada aktivitas pertambangan. Meski demikian, kami tetap berjalan dengan keyakinan kami.
Alam sebagai Tubuh Kehidupan
Bagi kami, masyarakat Sagea, tanah, hutan, dan telaga bukan sekadar sumber daya alam yang dapat dieksploitasi untuk memperkaya diri. Ketiganya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Bagi saya dan warga Sagea, menghancurkan salah satunya sama saja dengan melukai tubuh kami sendiri. Ketika telaga dirusak, rasanya seperti tangan kami dipotong. Ketika hutan ditebang, seolah kehidupan kami ikut dihilangkan.
Tempat-tempat itu juga menjadi ruang spiritual bagi masyarakat Sagea. Di sanalah kami terhubung dengan para leluhur, menjalankan ritus adat, dan memohon perlindungan ketika menghadapi bahaya.
Karena itu, bagi kami perempuan Sagea, mempertahankan alam bukan hanya soal menjaga ruang hidup. Ini adalah perjuangan untuk menjaga kehidupan, martabat, identitas, dan masa depan kampung.
Di Sagea, kami berdiri menjaga tanah kami. Kami percaya bahwa kekayaan sejati bukanlah nikel yang terkandung di perut bumi, melainkan manusia dan alam yang hidup di atasnya.
Selama tanah, air, dan hutan Sagea masih ada, perjuangan ini akan terus hidup.