Skip to content
Beranda » Opini » Pencitraan Berkedok Malaikat

Pencitraan Berkedok Malaikat

Nalar Timur
Kam, 14 Mei 2026
Barli Rano | Desain Foto: Nalartimur
Kecil Besar

Kasus-kasus pembunuhan yang terjadi di Halmahera Timur dan Halmahera Tengah kerap memperlihatkan pola yang sama: publik disuguhi wajah pemerintah dan aparat yang tampil seolah paling peduli terhadap rakyat.

Kamera dinyalakan, pernyataan duka disampaikan, janji evaluasi diumumkan. Namun ketika sorotan mereda, keluarga korban tetap hidup dalam kehilangan, sementara keadilan berjalan lambat—bahkan kerap menghilang tanpa arah.

Di situlah pencitraan bekerja. Pemerintah dan aparat tampil layaknya “malaikat penyelamat”, tetapi gagal menunjukkan keberpihakan nyata terhadap keselamatan masyarakat.

Empati dipertontonkan di hadapan publik, sementara akar persoalan kekerasan tidak disentuh secara serius. Masyarakat pun melihat adanya jurang lebar antara narasi kemanusiaan yang diucapkan para pejabat dengan kenyataan pahit yang dialami warga. Janji penyelesaian kasus yang disampaikan pemerintah daerah tidak pernah benar-benar tiba pada kepastian realitas yang nyata.

Ketika nyawa melayang, respons pemerintah seharusnya tidak berhenti pada konferensi pers atau himbauan normatif. Negara wajib hadir melalui perlindungan, penegakan hukum yang transparan, serta keberanian mengusut siapa pun yang terlibat.

Jika yang muncul hanya simbol-simbol kepedulian tanpa tindakan konkret, maka wajar bila rakyat menilai penderitaan mereka sedang dijadikan panggung pencitraan—sebuah lelucon yang terus diperpanjang.

Yang lebih menyakitkan, masyarakat kecil sering diposisikan hanya sebagai objek belas kasihan, bukan sebagai warga negara yang hak hidupnya wajib dijamin.

Setiap tragedi berubah menjadi siklus yang berulang: korban berjatuhan, pernyataan resmi keluar, perhatian publik mereda, lalu kasus perlahan dilupakan.

Tidak ada perubahan mendasar, tidak ada rasa aman yang benar-benar dibangun. Pertanyaannya, kebohongan macam apa yang terus dipelihara ini?

Kritik terhadap aparat dan pemerintah kerap dianggap sebagai bentuk kebencian. Padahal, kritik lahir justru karena masyarakat masih menyimpan harapan bahwa pemerintah dan aparat memiliki hati nurani.

Negara yang sehat bukan negara yang sibuk terlihat baik di depan kamera, melainkan negara yang benar-benar melindungi rakyat, bahkan ketika tidak ada sorotan publik.

Husnul khatimah bagi mereka—para korban yang berjatuhan setelah ditebas, dicincang, bahkan dipenggal kepalanya. Duka mereka bukan sekadar angka statistik, melainkan luka kemanusiaan yang menuntut keadilan.

Ada ironi besar dalam cara pemerintah dan aparat menghadapi tragedi kemanusiaan. Ketika rakyat kecil kehilangan nyawa, yang sering bergerak cepat justru mesin pencitraan.

Spanduk belasungkawa dipasang, konferensi pers digelar, kalimat “kami prihatin” diulang berkali-kali. Namun anehnya, keberanian untuk membongkar akar persoalan justru seperti lenyap entah ke mana.

Di Halmahera Timur dan Halmahera Tengah, masyarakat berkali-kali dipaksa menyaksikan pola serupa: nyawa melayang, situasi memanas, aparat datang setelah keadaan kacau, lalu pemerintah sibuk memastikan citra tetap aman. Seolah yang paling penting bukan keselamatan warga, melainkan menjaga agar investasi, jabatan, dan reputasi tidak terganggu.

Kekonyolan terbesar terlihat ketika rakyat diminta tetap percaya pada negara, sementara negara sendiri tampak lebih percaya pada laporan formal daripada jeritan masyarakat. Semua dibuat terdengar tertib di atas kertas—situasi “kondusif”, keamanan “terkendali”, kasus “ditangani”. Namun di lapangan, keluarga korban tetap menunggu kejelasan yang tak kunjung datang.

Lucunya lagi, kritik masyarakat sering dianggap ancaman, bukan alarm bahaya. Warga yang bersuara dicap provokatif, padahal mereka hanya menuntut hak paling dasar: hak untuk hidup aman dan diperlakukan adil. Negara seperti alergi terhadap kritik, tetapi justru akrab dengan seremonial.

Ada pula kecenderungan pemerintah dan aparat tampil paling depan saat kamera aktif, namun menghilang ketika warga membutuhkan pendampingan nyata. Mereka ingin terlihat seperti penyelamat, padahal rakyat merasa ditinggalkan sebelum, saat, dan sesudah tragedi terjadi.

Jika negara terus sibuk memoles wajah ketimbang membenahi luka masyarakat, maka untuk apa rakyat menaruh kepercayaan? Sebab rakyat tidak membutuhkan malaikat palsu yang pandai berbicara di podium. Rakyat membutuhkan keberanian, kejujuran, dan tindakan nyata untuk memastikan bahwa nyawa manusia tidak terus dianggap murah. (*)


Artikel ini ditulis oleh Barli Rano. Penulis merupakan pemuda asal Patani Timur.

Redaksi | 085143933586 | Website |  + posts
‎ ‎

‎Ikuti Media Kami ‎

‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎