Puasa dan Perjalanan Pulang

waktu baca 6 menit
Rabu, 18 Feb 2026 16:29 64 Hasbi Ade

Nalartimur — Bulan suci Ramadhan selalu datang seperti tamu lama yang tidak pernah kehilangan caranya mengetuk hati. Ia tidak mengetuk pintu rumah, melainkan pintu batin.

Setiap tahun, ia hadir dengan wajah yang sama namun makna yang berbeda. Kita yang berubah, bukan ia. Kita yang bertambah usia, berkurang tenaga, bertambah pengalaman, berkurang kesombongan—atau justru sebaliknya. Ramadhan adalah cermin; ia memantulkan siapa diri kita yang sebenarnya.

Di dalam kalender Hijriah, Ramadhan adalah bulan kesembilan. Namun dalam kehidupan seorang Muslim, ia sering menjadi bulan pertama—awal dari kesadaran, awal dari perenungan, awal dari upaya menjadi manusia yang lebih utuh.

Sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an pada Surah Al-Baqarah ayat 183, puasa diwajibkan agar manusia mencapai derajat takwa. Takwa, kata yang sederhana namun mengandung kedalaman tak terukur, adalah inti dari perjalanan Ramadhan.

‎Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Jika hanya itu, maka orang yang diet pun telah berpuasa. Ramadhan adalah latihan sunyi—latihan mengendalikan diri ketika tidak ada yang melihat.

Dalam dunia yang semakin riuh oleh pengakuan dan pembuktian, puasa justru mengajarkan kerahasiaan. Kita lapar, tetapi tidak perlu mengumumkannya. Kita haus, tetapi tidak perlu memamerkannya. Kita beribadah, tetapi tidak perlu menyiarkannya.

‎Di bulan ini, waktu seolah bergerak dengan ritme yang berbeda. Subuh terasa lebih sakral karena kita bangun sebelum fajar. Siang terasa lebih panjang karena tubuh merindukan air.

Sore terasa lebih syahdu karena harapan berbuka menggantung di langit jingga. Dan malam terasa lebih khusyuk karena doa-doa berbaris di antara rakaat-rakaat panjang salat tarawih.

Ramadhan adalah bulan ketika masjid kembali menemukan napasnya. Anak-anak berlarian di serambi, para orang tua duduk bersila dengan tasbih di tangan, dan para pemuda yang mungkin jarang terlihat di bulan lain tiba-tiba menjadi jamaah paling rajin.

Ada suasana kolektif yang sulit dijelaskan: rasa kebersamaan yang tidak dibangun oleh kontrak sosial, melainkan oleh iman yang sama. Namun Ramadhan juga adalah bulan kejujuran. Ia memaksa kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita hanya religius karena musimnya? Apakah kita hanya dermawan karena suasananya? Apakah kita hanya rajin karena ramai-ramai? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu nyaman. Tetapi justru di situlah letak keindahan Ramadhan, ia tidak memanjakan, ia mendewasakan.

Dalam kesunyian sahur, ketika sendok beradu pelan dengan piring dan mata masih setengah terpejam, ada perenungan yang lahir tanpa dipaksa. Kita menyadari betapa bergantungnya kita pada nikmat kecil: seteguk air, sepotong roti, secuil garam. Betapa seringnya kita mengeluh atas kekurangan, padahal kelimpahan selalu mengelilingi.

Puasa mengajarkan empati dengan cara yang paling sederhana: merasakan. Ketika perut kosong, kita memahami bahwa lapar bukan hanya metafora bagi kemiskinan; ia adalah rasa yang nyata, menyengat, dan melemahkan.

Dari situ, sedekah bukan lagi sekadar kewajiban administratif, melainkan respons hati yang tergerak. Kita memberi bukan karena ingin dipuji, tetapi karena tidak tahan melihat penderitaan yang kini kita rasakan dalam kadar yang kecil.

Ramadhan juga adalah bulan Al-Qur’an. Di bulan inilah kitab suci itu pertama kali diturunkan. Banyak orang berlomba-lomba mengkhatamkannya, melantunkan ayat-ayatnya dengan suara yang bergetar, atau setidaknya membacanya lebih sering dari biasanya.

Namun sesungguhnya, Ramadhan mengajarkan bahwa membaca bukan hanya melafalkan, melainkan menyerap. Ayat-ayat itu bukan untuk dituntaskan, melainkan untuk ditanam.

‎Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, di mana notifikasi lebih cepat dari doa dan layar lebih terang dari cahaya masjid serta Ramadhan hadir sebagai jeda. Ia mengingatkan bahwa manusia bukan mesin produksi. Kita bukan sekadar pekerja, konsumen, atau angka dalam statistik. Kita adalah makhluk spiritual yang membutuhkan ruang untuk hening.

Hening adalah kemewahan yang langka. Ramadhan memaksa kita mencarinya. Ketika perut kosong, suara hati terdengar lebih jelas. Ketika lidah ditahan dari kata-kata sia-sia, pikiran menjadi lebih jernih. Ketika amarah diredam, ego kehilangan panggungnya.

‎Namun, tidak semua orang menyambut Ramadhan dengan kegembiraan. Ada yang menyambutnya dengan kelelahan, karena beban ekonomi yang semakin berat. Harga bahan pokok naik, kebutuhan bertambah, sementara penghasilan tidak selalu ikut meningkat.

Di sini, Ramadhan diuji bukan hanya sebagai ibadah personal, tetapi sebagai tanggung jawab sosial. Apakah masyarakat mampu saling menopang? Apakah solidaritas benar-benar hidup?

‎Artikel ini berangkat dari keyakinan bahwa Ramadhan seharusnya menjadi momentum transformasi sosial, bukan hanya transformasi individu. Jika setelah sebulan berpuasa, korupsi tetap merajalela, kebohongan tetap dipelihara, dan ketidakadilan tetap dibiarkan, maka ada yang salah dalam cara kita memaknai ibadah.

Ramadhan bukan ritual tahunan yang selesai ketika takbir Idul Fitri berkumandang. Ia adalah sekolah karakter. Seorang murid yang baik tidak hanya lulus ujian, tetapi membawa ilmunya ke kehidupan nyata. Seorang yang berhasil dalam Ramadhan seharusnya membawa nilai-nilainya ke sebelas bulan berikutnya.

Nilai kejujuran, misalnya. Puasa adalah ibadah yang tidak bisa diawasi sepenuhnya oleh manusia. Seseorang bisa saja berpura-pura berpuasa, namun hanya dirinya dan Tuhan yang tahu kebenarannya. Dari sini, kita belajar bahwa integritas tidak membutuhkan saksi. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa ada pengawasan ilahi yang tidak pernah tidur.

Nilai kesabaran juga menjadi pelajaran utama. Dalam menahan lapar, kita belajar menahan emosi. Dalam menunggu berbuka, kita belajar menunda keinginan. Dalam menjalani hari-hari panjang, kita belajar bahwa tidak semua hal bisa didapatkan seketika. Dunia modern memuja kecepatan; Ramadhan mengajarkan ketekunan.

Di malam-malam terakhir, ketika sebagian orang mulai kelelahan dan sebagian lainnya justru semakin bersemangat, ada pencarian yang lebih dalam: Lailatul Qadar. Malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan. Pencarian ini bukan sekadar mengejar pahala, tetapi mengejar kedekatan. Dalam gelapnya malam, doa-doa dilangitkan dengan harap yang tulus.

Ramadhan juga menyatukan lintas generasi. Kakek, ayah, dan anak berdiri dalam satu saf. Perempuan di dapur menyiapkan hidangan berbuka dengan cinta yang diwariskan turun-temurun. Tradisi bertemu iman, budaya bersua nilai. Semua melebur dalam satu kata: keberkahan.

‎Namun, artikel ini ingin menegaskan bahwa keberkahan tidak datang otomatis hanya karena kalender menunjukkan bulan Ramadhan. Keberkahan lahir dari kesungguhan. Dari niat yang lurus. Dari upaya yang konsisten. Tanpa itu, Ramadhan hanya akan menjadi rutinitas yang lewat tanpa bekas.

Ada paradoks yang menarik: di bulan ketika kita diminta menahan diri, justru konsumsi sering meningkat. Meja berbuka penuh berlimpah, pusat perbelanjaan ramai, iklan-iklan menggoda tanpa henti.

Ramadhan berisiko berubah menjadi festival belanja jika kesadaran tidak dijaga. Di sinilah kita diuji: apakah kita berpuasa dari lapar saja, atau juga dari kerakusan?

Ramadhan sejatinya mengajarkan kesederhanaan. Nabi Muhammad dikenal berbuka dengan kurma dan air Kesederhanaan bukan berarti kekurangan, melainkan kecukupan.

Ia bukan simbol kemiskinan, melainkan pengendalian diri. Pada akhirnya, Ramadhan adalah perjalanan pulang. Pulang kepada fitrah. Pulang kepada kesadaran bahwa hidup ini sementara. Pulang kepada Tuhan yang selama ini mungkin kita abaikan dalam kesibukan dunia.

‎Ketika takbir Idul Fitri menggema, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Kita berpisah dengan bulan yang membentuk kita, membersihkan kita, dan mungkin juga menguji kita. Ada harapan agar kita keluar sebagai pribadi yang lebih ringan—ringan dari dosa, ringan dari dendam, ringan dari kesombongan.

‎Artikel tersebut tidak bermaksud menggurui, melainkan mengajak merenung. Ramadhan bukan milik ulama saja, bukan milik mereka yang sempurna saja. Ia milik kita semua yang masih belajar, yang masih jatuh bangun, yang masih berusaha.

‎Karena pada akhirnya, Ramadhan bukan tentang siapa yang paling banyak ibadahnya terlihat, tetapi siapa yang paling tulus niatnya tersembunyi.

Bulan suci ini datang setiap tahun, tetapi kesempatan yang kita miliki belum tentu datang kembali. Maka, jika ia kembali menyapa, sambutlah dengan hati yang terbuka. Jadikan ia bukan sekadar bulan yang dilewati, melainkan bulan yang mengubah.

Ramadhan adalah jeda yang menyelamatkan. Ia adalah cahaya yang lembut. Ia adalah pengingat bahwa dalam diri manusia, selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik.

‎Dan mungkin, itulah makna terdalamnya: Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang menumbuhkan jiwa. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA