Skip to content
Beranda » Opini » Songara Coffe: Ruang Sosial dan Keberagaman Identitas

Songara Coffe: Ruang Sosial dan Keberagaman Identitas

Nalar Timur
Sab, 23 Mei 2026
Sahwi Agil, Mahasiswa Antropologi Unkhair Ternate | Desain Foto: Nalartimur
Kecil Besar

Songara merupakan sebuah café yang cukup elit dan berlokasi di Kelurahan Ubo-Ubo. Banyak pengunjung datang untuk menikmati berbagai jenis kopi sesuai selera mereka. Suasana yang nyaman, desain tempat yang menarik, serta nuansa modern menjadikan café ini sebagai salah satu lokasi favorit anak muda, khususnya perempuan, untuk bersantai dan berkumpul bersama teman-teman.

Menariknya, sebagian besar pengunjung yang datang ke Songara didominasi oleh perempuan. Fenomena ini menunjukkan bahwa Songara bukan sekadar tempat menikmati kopi, tetapi juga menjadi ruang sosial yang nyaman, estetik, dan cocok untuk berbincang, mengerjakan aktivitas, maupun menghabiskan waktu bersama.

Dalam pendekatan antropologi pembangunan, Songara tidak hanya dipandang sebagai café dengan bangunan yang mewah dan modern, melainkan juga sebagai ruang sosial yang membangun relasi antarmanusia. Tempat ini mempererat silaturahmi serta menciptakan interaksi sosial antara pengunjung dan para karyawan.

Kemewahan café tersebut juga memperlihatkan bahwa sebagian besar pengunjungnya berasal dari latar belakang keluarga yang cukup mampu. Sementara itu, malam itu saya hadir dengan cara yang sederhana. Saya duduk santai di sudut ruangan sambil memikirkan isi “popoje” di saku yang masih cukup menyelamatkan malam saya. Di tengah aroma kopi dan percakapan yang terdengar berkelas, saya menikmati suasana dengan cara saya sendiri tanpa harus menjadi bagian dari gaya hidup mereka.

Dari hasil pengamatan saya, sebagian besar pengunjung Songara tampaknya berasal dari latar belakang keluarga pendatang atau memiliki garis keturunan di luar Ternate, seperti Bugis, Jawa, Makassar, Manado, dan daerah lainnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa café tersebut menjadi ruang pertemuan berbagai identitas sosial dan budaya di kota.

Dalam sudut pandang antropologi sosial, tempat seperti Songara bukan hanya ruang konsumsi modern, tetapi juga arena perjumpaan antarkelompok masyarakat yang membawa gaya hidup, selera, dan cara berinteraksi yang berbeda-beda. Dari sana terlihat bagaimana ruang-ruang urban perlahan membentuk budaya nongkrong, relasi sosial, dan identitas anak muda yang semakin terbuka terhadap keberagaman.

Keberagaman itu tampak pula dari cara para pengunjung berpakaian. Mereka mengenakan pakaian dengan ciri khas masing-masing, mulai dari gaya modern, elegan, sederhana, hingga mengikuti tren perkotaan masa kini. Cara berpakaian tersebut secara tidak langsung menjadi simbol latar sosial, selera, bahkan identitas kultural yang mereka bawa.

Sementara itu, saya hadir dengan versi pakaian saya sendiri, sederhana seperti orang-orang dari daerah terpencil. Di tengah suasana café yang dipenuhi gaya modern dan penampilan yang rapi, saya tetap datang dengan percaya diri tanpa rasa ragu. Sebab bagi saya, kami semua hadir di tempat itu dengan tujuan yang sama: menikmati kopi dan berbagi cerita bersama teman.

Dalam perspektif antropologi, penampilan bukan hanya soal estetika, tetapi juga bentuk ekspresi diri dan representasi budaya di ruang publik. Oleh karena itu, Songara dapat dipandang sebagai tempat bertemunya berbagai identitas sosial yang saling berinteraksi dalam suasana santai dan modern.

Namun, dari situ saya menyadari bahwa setiap orang membawa identitasnya masing-masing. Ada yang lahir dari lingkungan perkotaan, ada pula yang tumbuh dalam kesederhanaan kampung dan kehidupan pinggiran. Perbedaan tersebut tidak selalu menciptakan jarak, melainkan dapat menjadi cara untuk melihat bagaimana ruang sosial seperti Songara mempertemukan berbagai latar kehidupan dalam satu tempat yang sama.

Dari seluruh rangkaian pengalaman dan pengamatan tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa Songara Café bukan sekadar tempat bersantai sambil menikmati aroma kopi, melainkan ruang sosial yang menyatukan keberagaman identitas, budaya, gaya hidup, dan latar belakang sosial para pengunjungnya.

Semua orang hadir dan bertemu dalam ruang yang sama, berbagi suasana, percakapan, serta pengalaman sosial. Dalam perspektif antropologi sosial, Songara menjadi gambaran kecil tentang bagaimana ruang modern mampu mempertemukan berbagai kelompok masyarakat tanpa harus menghilangkan identitas yang mereka miliki. (*)


Artikel ini ditulis oleh Sahwy Agil. Penulis merupakan Mahasiswa Antropologi Sosial Universitas Khairun.

Redaksi | 085143933586 | Website |  + posts
‎ ‎

‎Ikuti Media Kami ‎

‎ ‎ ‎ ‎ ‎ ‎