Perang Iran Memasuki Bulan Keenam, Ketidakpastian Kian Membayangi

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

A    A    A

Rangkuman peristiwa-peristiwa utama sepanjang enam bulan perang ketika kedua belah pihak masih mempertimbangkan langkah selanjutnya.

Ketika perang pecah pada 28 Februari, Presiden Donald Trump menyatakan Iran “telah sepenuhnya dikalahkan dan menginginkan kesepakatan.” Sebulan kemudian, ia mengatakan militer Amerika Serikat akan mengakhiri operasi militernya di Iran dalam waktu dua hingga tiga pekan. “Kami akan segera pergi,” ujarnya saat itu.

Enam bulan kemudian, operasi militer masih berlangsung. Konflik yang pada awalnya diperkirakan berlangsung singkat kini memasuki fase yang belum menunjukkan kepastian penyelesaian. Setelah hampir dua pekan diwarnai serangan dan serangan balasan, eskalasi konflik sempat mereda. Namun, persoalan-persoalan utama antara Washington dan Teheran belum mencapai penyelesaian.

Selama enam bulan konflik berlangsung, perang menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi yang besar. Diperkirakan sekitar 1.700 warga sipil Iran tewas akibat serangan udara yang juga merusak berbagai infrastruktur.

Di pihak Amerika Serikat, Pentagon melaporkan 18 personel militer tewas. Biaya perang diperkirakan mencapai US$37,5 miliar. Berikut rangkuman perkembangan utama sejak pecahnya perang hingga serangan-serangan terbaru pada Juli.

Februari: Selat Hormuz Tertutup

Setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan awal, Iran merespons dengan menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz. Situasi tersebut mengganggu lalu lintas pelayaran di salah satu jalur distribusi minyak utama dunia dan mendorong kenaikan harga minyak global.

Pada 28 Februari, rudal jelajah Tomahawk yang diluncurkan dari kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat menghantam sebuah sekolah dasar di Minab, Iran selatan.

Sebanyak 175 orang dilaporkan tewas, sebagian besar anak-anak. Hingga kini, Gedung Putih maupun Pentagon belum memberikan pengakuan resmi mengenai tanggung jawab atas serangan tersebut.

Maret: Pertempuran Meluas

Pada 1 Maret, Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat menggunakan rudal balistik jarak menengah dan pesawat nirawak. Sebuah drone Iran menewaskan enam personel Angkatan Darat Amerika Serikat di Kuwait.

Pada hari yang sama, tiga pesawat tempur F-15 Amerika Serikat ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Kuwait yang diduga salah mengidentifikasi sasaran. Seluruh awak pesawat berhasil diselamatkan.

Pada 4 Maret, kapal selam Angkatan Laut Amerika Serikat menembakkan torpedo ke kapal perang Iran di dekat Sri Lanka. Serangan tersebut diperkirakan menewaskan lebih dari 100 pelaut Iran.

Pada 12 Maret, enam personel Angkatan Udara Amerika Serikat tewas ketika pesawat tanker KC-135 yang mereka tumpangi jatuh di Irak barat.

Pada 31 Maret, Trump kembali menyatakan Amerika Serikat akan menarik pasukannya dari Iran dalam dua hingga tiga pekan. Di saat yang sama, harga rata-rata bensin tanpa timbal reguler di Amerika Serikat meningkat dari US$2,98 menjadi US$3,98 per galon, berdasarkan data AAA.

April: Gencatan Senjata Pertama

Awal April ditandai dengan jatuhnya sebuah pesawat tempur F-15 Amerika Serikat di wilayah Iran. Pilot berhasil dievakuasi lebih dahulu, sedangkan petugas sistem persenjataan diselamatkan melalui operasi lanjutan yang melibatkan ratusan personel operasi khusus.

Sejumlah pesawat Amerika Serikat dilaporkan mengalami kerusakan selama operasi tersebut. Sebuah pesawat A-10 Warthog juga jatuh pada periode yang sama, sementara pilotnya berhasil diselamatkan. Pada 6 April, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah menyerang lebih dari 13.000 target di Iran.

Pada 7 April, Trump mengumumkan gencatan senjata. Namun, pada 11 April, Wakil Presiden JD Vance menyatakan perundingan selama 21 jam di Pakistan belum menghasilkan kesepakatan. Sehari kemudian, Amerika Serikat mengumumkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Pada 19 April, kapal perusak Amerika Serikat menembaki kapal kargo berbendera Iran di Laut Arab sebelum kemudian menyitanya. Menurut pihak Amerika Serikat, kapal tersebut diduga berupaya menembus blokade.

Pada 21 April, Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata. Harga bensin rata-rata di Amerika Serikat pada periode tersebut mencapai US$4,30 per galon.

Mei: Operasi Laut dan Perkembangan Militer

Pada 3 Mei, Trump mengumumkan “Proyek Kebebasan”, sebuah inisiatif untuk membantu kapal-kapal dagang yang terjebak akibat penutupan Selat Hormuz. Program tersebut dihentikan kurang dari 48 jam setelah diluncurkan.

Pada 5 Mei, Menteri Pertahanan Pete Hegseth bersama Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine memberikan pengarahan kepada media mengenai perkembangan perang. Tidak ada pengarahan serupa setelah itu.

Pada 7 Mei, Trump kembali menyatakan gencatan senjata masih berlaku, tetapi pada 10 Mei menolak tawaran Iran untuk melanjutkan perundingan.

Pada 13 Mei, Layanan Penelitian Kongres melaporkan militer Amerika Serikat kehilangan atau mengalami kerusakan pada 42 pesawat tempur, helikopter, dan pesawat nirawak selama perang.

Pada 23 Mei, Trump kembali menyatakan optimistis kesepakatan damai dapat segera tercapai. CENTCOM juga melaporkan telah mengawal sekitar 70 kapal dagang melewati Selat Hormuz melalui jalur di sepanjang pantai Oman. Harga rata-rata bensin tanpa timbal reguler mencapai US$4,42 per galon.

Juni: Kesepakatan yang Rapuh

Memasuki Juni, Trump menyebut proses negosiasi dengan Iran berlangsung lambat dan menyatakan dirinya tidak mempermasalahkan apabila pembicaraan gagal.

Pada 11 Juni, Trump kembali mengatakan kesepakatan damai sudah dekat. Tiga hari kemudian, Gedung Putih dan Teheran mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, meskipun persoalan mengenai program nuklir Iran belum terselesaikan.

Pada 17 Juni, nota kesepahaman kedua negara dipublikasikan. Dokumen tersebut memuat sejumlah ketentuan yang kemudian ditafsirkan berbeda oleh masing-masing pihak.

Pada 20 Juni, Wakil Presiden JD Vance melanjutkan pembicaraan damai, sementara pada 22 Juni Amerika Serikat melonggarkan sanksi terhadap ekspor minyak Iran.

Pada 23 Juni, Iran menyerang sebuah kapal dagang di Selat Hormuz. Amerika Serikat kemudian melancarkan serangan udara balasan dalam dua hari berikutnya. Menjelang akhir Juni, harga rata-rata bensin turun menjadi US$3,91 per galon.

Juli: Eskalasi Kembali Terjadi

Pada 1 Juli, sebuah helikopter Angkatan Laut Amerika Serikat melakukan pendaratan darurat di Laut Arab. Beberapa hari kemudian, seorang pilot senior yang berada di dalam helikopter tersebut dinyatakan hilang.

Pada 4 Juli, Pentagon tetap menggelar pertunjukan udara di National Mall, Washington, meskipun sebelumnya telah dikeluarkan peringatan evakuasi akibat potensi cuaca ekstrem.

Pada 8 Juli, beberapa jam setelah Trump menyatakan gencatan senjata selama tiga pekan telah berakhir, Amerika Serikat melancarkan serangan udara baru terhadap Iran.

Iran membalas pada 9 Juli dengan meluncurkan rudal balistik jarak menengah ke Yordania. CENTCOM melaporkan sekitar 170 target diserang dalam 48 jam pertama eskalasi terbaru tersebut.

Pada 11 Juli, Trump memerintahkan serangan udara lanjutan setelah Iran menyerang kapal kontainer di Selat Hormuz. Dua hari kemudian, ia mengumumkan rencana pemberlakuan biaya bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz serta kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Pada 17 Juli, tiga personel Angkatan Darat Amerika Serikat tewas akibat serangan Iran terhadap pangkalan militer di Yordania. Sehari kemudian, seorang personel Angkatan Darat Amerika Serikat tewas saat berupaya menjinakkan pesawat nirawak Iran di Irak utara.

Pada 26 Juli, Pentagon memperbarui metode penghitungan korban dengan melaporkan sebanyak 624 personel militer Amerika Serikat mengalami luka-luka dan 18 personel tewas selama konflik. Harga rata-rata bensin tanpa timbal reguler di Amerika Serikat kembali naik menjadi US$4,11 per galon.

Hingga akhir Juli, intensitas pertempuran kembali menurun dalam beberapa hari terakhir. Namun, belum terdapat penyelesaian terhadap persoalan-persoalan utama yang menjadi pemicu konflik sehingga situasi tetap berpotensi berubah sewaktu-waktu.

BA
PENULIS

Bara Aksara

Diterbitkan: 28 Juli 2026 pukul 21.35

BERITA TERKAIT