Dulu, Nurcholish Madjid mengajarkan sesuatu yang terdengar sederhana, tetapi sejatinya radikal: desakralisasi. Memisahkan Tuhan dari benda. Iman dari mitos. Yang layak disembah dari yang sekadar kebetulan diziarahi.
Kuburan bukan Tuhan. Batu bukan Tuhan. Tokoh bukan Tuhan.
Menyembah selain Allah, kata Cak Nur, bukan hanya keliru secara teologis—ia juga memalukan secara manusiawi. Manusia merendahkan dirinya sendiri, jatuh derajat, bahkan lebih hina dari objek yang ia agungkan.
Saat itu, agama adalah ruang berpikir. Bukan museum kesucian palsu.
Ironinya, generasi setelahnya tekun membaca Cak Nur, tetapi enggan mempraktikkannya.
Dalam semangat yang sama, Fachri Ali membaca tradisi Himpunan Mahasiswa Islam sebagai gerakan rasional. Tidak ada manusia suci setelah Nabi. Semua bisa diuji. Semua bisa dikritik. Akal adalah pintu masuk iman.
Generasi 70–80an hidup dalam etos itu. Yang dihormati: argumen, bukan jabatan. Yang ditakuti: kesalahan berpikir, bukan senioritas. Namun sejarah memang gemar bersandiwara. Hari ini, rasionalitas diganti rekomendasi. Kritik diganti restu. Argumen diganti “izin kanda”. Yang sakral memang bukan lagi kuburan. Yang sakral sekarang: senior.
Dulu kita diajari menolak kultus individu. Sekarang kita sibuk membangun altar. berwujud grup WhatsApp, undangan kopi, dan foto bersama. Tak ada lagi senior pintar untuk diuji gagasannya. Yang tersisa: figur sakral. Orang pintar masih bisa dibantah. Orang sakral tak boleh disentuh. Kanda bukan lagi sekadar kakak. Ia telah menjelma doktrin berjalan.
Jika kanda berkata A, logika harus menyesuaikan. Jika kanda keliru, realitas yang dituduh salah. Jika kanda tersinggung, akal sehat wajib meminta maaf. Beginilah tauhid versi mutakhir: menyembah satu Tuhan, dan beberapa patron.
Di ruang yang ditinggalkan gagasan, pragmatisme masuk tanpa izin. Saat ide mati, jaringan tumbuh. Saat integritas melemah, akses menjadi segalanya.
Figur seperti Bahlil Lahadalia hadir bukan sebagai anomali, melainkan produk zaman. Mereka tidak membawa bangunan pemikiran—mereka membawa jalur cepat.
Bukan visi. Hanya akses. Bukan kesadaran. Hanya kedekatan. Dan anehnya, semua ini dirayakan sebagai kemajuan. Sementara itu, para intelektual lama duduk di pinggir lapangan menyaksikan bangunan yang dulu mereka dirikan, kini diruntuhkan penghuninya sendiri.
Mereka tidak kalah dalam debat. Mereka kalah dalam pasar. Di zaman ini, pikiran tidak laku. Yang laku: posisi. Kritikus dianggap pengganggu.
Pemikir dianggap tidak produktif. Yang berguna hanyalah mereka yang “punya jalur”.
Dulu, tauhid membebaskan manusia dari ketundukan. Kini, tauhid cukup menjadi spanduk. Dalam praktik: yang ditaati bukan Tuhan, melainkan struktur. yang ditakuti bukan dosa, melainkan dikeluarkan dari lingkaran. yang dicari bukan kebenaran, melainkan parkir kekuasaan.
Maka lahirlah agama baru: Kandaisme Patron. Kitab sucinya: relasi. Nabinya: senior berpengaruh. Mukjizatnya: promosi jabatan. Surga tertingginya: akses ke lingkaran dalam. Semua dijalankan atas nama iman, tradisi, dan perjuangan.
Padahal yang diperjuangkan hanya satu: kenyamanan tanpa berpikir. Mungkin Cak Nur tidak salah. Mungkin Fachri Ali tidak keliru. Yang berubah bukan ajarannya yang berubah adalah keberanian kita. Dulu, kita takut kepada Tuhan.
Sekarang, kita lebih takut pada kanda. Dulu, iman melahirkan kemerdekaan. Sekarang, iman cukup melahirkan loyalitas. Dan di situlah ironi terbesar zaman ini:
Kita mengaku telah meninggalkan penyembahan batu, namun dengan tekun membangun patung-patung baru bernama relasi, patron, dan kekuasaan.
Barangkali, itulah bentuk syirik paling modern. (*)
Artikel ditulis langsung oleh Risfatah Iqbal. Penulis merupakan Wasek P3A HMI Komisariat KH. Ahmad Dahlan UMMU Ternate.

