Ketua Umum Pengurus Pusat Forum Mahasiswa Pascasarjana Maluku Utara (FORMAPAS MALUT), Riswan Sanun, meminta Kapolda Maluku Utara yang baru, Brigjen Pol. Arif Budiman, menjadikan rentetan kasus pembunuhan oleh orang tak dikenal (OTK) di Halmahera Tengah dan Halmahera Timur sebagai perhatian serius sekaligus pekerjaan rumah utama yang harus segera dituntaskan.
Menurut Riswan, pergantian kepemimpinan di tubuh Polda Maluku Utara perlu menjadi momentum untuk memulihkan rasa aman masyarakat yang belakangan dihantui sejumlah kasus pembunuhan misterius di kawasan hutan dan perkebunan Pulau Halmahera.
“Ini adalah kado sekaligus PR besar bagi Kapolda baru Maluku Utara. Masyarakat hari ini hidup dalam rasa takut karena kasus pembunuhan oleh OTK terus terjadi namun belum mampu diungkap secara tuntas. Negara tidak boleh kalah oleh pelaku kriminal yang mengancam keselamatan warga,” ujar Riswan dalam keterangannya, Senin (11/5/2026).
Ia menilai, maraknya kasus pembunuhan misterius di wilayah Halmahera Tengah dan Halmahera Timur telah menimbulkan keresahan sosial di tengah masyarakat. Warga yang beraktivitas di kebun maupun kawasan hutan disebut mulai merasa tidak aman karena khawatir menjadi korban berikutnya.
Salah satu kasus yang menjadi perhatian publik terjadi di Kecamatan Patani Barat, Halmahera Tengah, pada awal April 2026. Seorang petani lanjut usia bernama Ali Abas ditemukan meninggal dunia di area perkebunan dalam kondisi mengenaskan dan diduga menjadi korban pembunuhan oleh OTK. Peristiwa tersebut sempat memicu ketegangan sosial di masyarakat dan mendorong aparat kepolisian melakukan penyelidikan.
Namun demikian, Riswan menegaskan kasus tersebut bukan kejadian tunggal. Ia menyebut pola pembunuhan misterius di kawasan hutan Halmahera Tengah dan Halmahera Timur telah berulang dalam beberapa tahun terakhir, tetapi belum menunjukkan perkembangan penanganan yang signifikan.
“Situasi ini tidak bisa dianggap biasa. Ketika kasus demi kasus terus terjadi tanpa kejelasan pengungkapan, yang muncul adalah ketakutan publik, menurunnya kepercayaan terhadap aparat, hingga potensi konflik sosial di masyarakat,” katanya.
FORMAPAS Malut juga menyoroti berbagai desakan publik yang terus bermunculan, mulai dari tokoh masyarakat, mahasiswa, anggota DPRD, hingga anggota DPD RI asal Maluku Utara, agar aparat penegak hukum, termasuk Kapolri, turun tangan mengusut rentetan kasus pembunuhan tersebut.
Riswan berharap Kapolda Maluku Utara yang baru dapat menunjukkan keseriusan dan komitmen dalam membongkar motif maupun pihak-pihak yang terlibat dalam kasus pembunuhan misterius yang meresahkan masyarakat.
“Kami meminta Kapolda baru tidak hanya menjadikan kasus ini sebagai laporan administrasi semata, tetapi benar-benar mengambil langkah konkret, melakukan investigasi menyeluruh, serta membuka perkembangan penanganan kasus secara transparan kepada publik,” ujarnya.
Lebih lanjut, FORMAPAS Malut menegaskan akan terus mengawal perkembangan kasus pembunuhan OTK di Halmahera Tengah dan Halmahera Timur hingga seluruh pelaku berhasil diungkap dan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Masyarakat Maluku Utara membutuhkan rasa aman. Jangan sampai masyarakat merasa hukum tidak hadir ketika nyawa warga terus melayang secara misterius dan kepercayaan terhadap negara semakin menurun,” tutup Riswan Sanun, (Abi/Red)

