Muktamar XIV KAMMI di Ambon semestinya menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat arah perjuangan gerakan. Namun, realitas yang berkembang justru menunjukkan adanya tarik-menarik kepentingan di antara dua kubu yang saling mengklaim legitimasi.
Berbagai pernyataan penolakan, tudingan mengenai keabsahan forum, hingga klaim kepemimpinan yang sah memperlihatkan bahwa persoalan yang dihadapi KAMMI hari ini tidak lagi sebatas perbedaan pandangan, melainkan telah berkembang menjadi krisis kepercayaan di tubuh organisasi.
Sayangnya, konflik ini tidak lahir dari kader-kader di tingkat komisariat. Ia tumbuh dan berkembang di ruang-ruang elite organisasi. Namun, dampaknya justru paling dirasakan oleh kader akar rumput yang selama ini menjadi tulang punggung gerakan.
Di tingkat komisariat, kader tetap menjalankan proses kaderisasi, menggelar kajian, melakukan advokasi terhadap persoalan masyarakat, serta menjaga eksistensi organisasi di lingkungan kampus.
Sebaliknya, di tingkat pusat, energi organisasi justru tersita untuk mempertahankan kepentingan masing-masing kubu. Seolah-olah masa depan KAMMI hanya ditentukan oleh siapa yang memenangkan perebutan legitimasi, bukan oleh sejauh mana organisasi mampu memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara.
Narasi tentang “menyelamatkan organisasi”, “menjaga konstitusi”, atau “mengembalikan marwah KAMMI” akan kehilangan maknanya apabila yang justru menjadi korban adalah kader-kader di tingkat komisariat. Karena itu, kader akar rumput tidak membutuhkan perang pernyataan ataupun saling klaim.
Mereka membutuhkan kepastian arah gerakan, sistem kaderisasi yang sehat, serta kepemimpinan yang mampu menjadi teladan dalam menyelesaikan perbedaan.
Ironisnya, ketika elite sibuk memperdebatkan konstitusi dan legitimasi, banyak komisariat masih berjuang dengan keterbatasan pendanaan, minimnya pendampingan, dan rendahnya perhatian dari struktur organisasi.
Di saat elite memperdebatkan siapa yang paling sah memimpin, kader di tingkat bawah justru mempertanyakan hal yang lebih mendasar: siapa yang benar-benar hadir dan peduli terhadap kebutuhan kader.
Apabila konflik ini terus dipelihara, maka yang lahir bukanlah organisasi yang semakin kuat, melainkan generasi kader yang apatis terhadap gerakan.
Mereka akan menyaksikan bahwa organisasi yang selama ini mengajarkan nilai persatuan, ukhuwah, dan kepemimpinan ternyata belum mampu menyelesaikan persoalan internalnya secara dewasa. Muktamar Ambon semestinya menjadi panggung rekonsiliasi, bukan arena mempertontonkan pertarungan ego.
Sebab, sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling lantang menyuarakan klaimnya, melainkan siapa yang mampu menyelamatkan organisasi dari perpecahan dan mengembalikan kepercayaan kader.
KAMMI dibangun oleh ribuan kader yang berjuang dari komisariat-komisariat di berbagai penjuru negeri. Oleh karena itu, jangan jadikan mereka korban dari ambisi segelintir elite.
Jangan menjual narasi persatuan jika yang dipertontonkan justru perpecahan. Jangan berbicara tentang masa depan gerakan apabila hari ini kader akar rumput dibiarkan menanggung beban konflik yang tidak pernah mereka ciptakan.
Akhirnya, KAMMI tidak akan runtuh karena adanya perbedaan pendapat. Perbedaan merupakan hal yang wajar dalam sebuah organisasi.
Namun, KAMMI dapat kehilangan kepercayaan kader apabila para elit lebih sibuk mempertahankan kepentingan kelompoknya daripada menjaga rumah besar yang bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
Di situlah ujian sesungguhnya bagi kepemimpinan organisasi: mengutamakan persatuan di atas kepentingan faksi demi keberlangsungan perjuangan bersama. (*)
Artikel ini ditulis oleh Muhammad Alsaf Lobiua. Penulis merupakan Ketua Bidang Kebijakan Publik KAMMI Daerah Kota Ternate.
