Obat Dungu: Ketika Filsafat Menjadi Vitamin bagi Akal Sehat

Bung Opick

A    A    A

Oleh: Bung Opick

——————————

Ada satu pemandangan yang selalu menarik perhatian saya di sebuah kedai kopi. Dua orang berdebat panjang tentang keadaan negeri. Suara mereka lantang, argumen mereka berapi-api.

Namun, setelah diamati, yang tampak bukanlah upaya mencari kebenaran, melainkan keinginan untuk memenangkan perdebatan. Saat itulah saya teringat pada buku karya Rocky Gerung berjudul Obat Dungu.

Judulnya provokatif. Namun, justru di situlah letak daya tariknya. Benarkah masyarakat hari ini membutuhkan “obat” bagi cara berpikirnya? Tentu ini bukan buku kedokteran dan tidak menawarkan resep yang dapat ditebus di apotek.

Obat yang dimaksud Rocky Gerung adalah latihan menggunakan akal sehat. Melalui buku ini, pembaca diajak berpikir lebih jernih, mempertanyakan sesuatu secara kritis, serta tidak menerima setiap informasi begitu saja.

Buku ini merupakan kumpulan esai yang ditulis dalam berbagai periode. Isinya membahas demokrasi, hukum, pendidikan, kebudayaan, hak asasi manusia, hingga etika bernegara. Tema-temanya beragam, tetapi memiliki benang merah yang sama: masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang berani berpikir.

Sebagai akademisi filsafat, Rocky Gerung menampilkan gaya penulisan yang khas. Ia banyak menggunakan analogi, ironi, satire, dan permainan logika yang terkadang sengaja mengguncang kenyamanan pembaca.

Karena itu, Obat Dungu bukanlah buku yang berusaha menyenangkan semua orang. Sebaliknya, buku ini mengajak pembacanya berdialog dengan gagasan.

Tradisi mempertanyakan sesungguhnya bukanlah hal baru. Sejak masa filsafat Yunani Kuno, manusia diajak untuk tidak menerima sesuatu hanya karena dianggap lazim atau diyakini banyak orang. Pertanyaan sederhana, “Mengapa?”, menjadi pintu masuk lahirnya kebijaksanaan. Semangat itulah yang terasa kuat dalam buku ini.

Rocky tidak meminta pembaca mempercayai seluruh pendapatnya. Sebaliknya, ia justru mendorong pembaca menguji setiap argumen, termasuk argumen yang ia bangun sendiri.

Di tengah derasnya arus media sosial, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Informasi bergerak begitu cepat sehingga banyak orang membagikan kabar sebelum memeriksa kebenarannya. Akibatnya, opini sering kali mengalahkan fakta.

Dalam filsafat, sikap seperti ini dekat dengan gagasan Immanuel Kant yang menekankan pentingnya keberanian menggunakan akal sendiri. Pencerahan dimulai ketika manusia keluar dari kemalasan berpikir dan tidak semata-mata bergantung pada pendapat orang lain.

Buku ini juga mengingatkan bahwa demokrasi tidak berhenti pada proses memilih pemimpin. Demokrasi membutuhkan warga negara yang mampu bertanya, mengkritik, dan memberikan alasan atas setiap pendapat yang disampaikan. Di sinilah letak kekuatan utama Obat Dungu. Rocky berusaha membangun tradisi bernalar, bukan sekadar tradisi berteriak.

Meski demikian, pembaca perlu bersabar. Bahasa yang digunakan cukup padat dan dipenuhi istilah-istilah filsafat. Bagi mereka yang baru memasuki dunia pemikiran, beberapa bagian mungkin terasa berat. Namun, justru tantangan itulah yang menjadi daya tarik buku ini.

Sebab, buku yang baik tidak selalu menyediakan jawaban. Kadang, ia justru menghadirkan pertanyaan yang terus hidup bahkan setelah halaman terakhir selesai dibaca.

Saya membayangkan, jika budaya membaca buku-buku seperti ini tumbuh di ruang-ruang publik, mungkin kualitas perdebatan kita akan menjadi lebih sehat.

Orang tidak mudah marah hanya karena berbeda pendapat. Filsuf Karl Popper pernah menekankan bahwa pengetahuan berkembang melalui kritik. Sebuah gagasan tidak menjadi kuat karena tidak pernah dibantah, melainkan karena mampu bertahan setelah diuji.

Semangat itulah yang saya tangkap dari Obat Dungu. Buku ini mengajak pembaca menguji ide, bukan memusuhi mereka yang memiliki pandangan berbeda.

Di sisi lain, pembaca juga perlu menjaga jarak kritis terhadap isi buku. Tidak semua argumen harus diterima begitu saja. Resensi yang jujur bukanlah pujian tanpa batas, melainkan dialog yang sehat dengan isi bacaan.

Kelebihan lain buku ini adalah keberaniannya menghubungkan filsafat dengan persoalan sehari-hari. Filsafat tidak lagi terasa jauh dari kehidupan, melainkan hadir dalam diskusi tentang pendidikan, birokrasi, media, hingga politik.

Judulnya memang keras. Namun, setelah membaca keseluruhan isi, saya melihat bahwa sasaran kritiknya bukan individu tertentu, melainkan kebiasaan berpikir yang malas, fanatik, dan anti-kritik.

Sebagai pembaca, saya memandang Obat Dungu lebih tepat dipahami sebagai ajakan merawat akal sehat daripada sekadar kritik sosial. Di negeri yang begitu kaya pendapat, kita justru membutuhkan tradisi membaca yang lebih kuat. Sebab, membaca membuat seseorang tidak mudah diprovokasi dan tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan.

Perpustakaan, sekolah, kampus, bahkan warung kopi dapat menjadi ruang lahirnya percakapan yang bermutu apabila buku-buku seperti ini dibaca dengan pikiran terbuka.

Buku tersebut mungkin tidak membuat semua orang sepakat dengan Rocky Gerung. Namun, setidaknya ia dapat membuat pembaca lebih berhati-hati sebelum menyatakan bahwa hanya dirinya yang benar.

Pada akhirnya, “obat dungu” bukanlah benda yang dijual di toko. Ia adalah kebiasaan membaca, berdiskusi, memeriksa fakta, serta berani mengoreksi diri sendiri ketika keliru. Barangkali, itulah resep akal sehat yang sesungguhnya.

Kelebihan buku ini terletak pada keberaniannya mengangkat gagasan, kekayaan perspektif filsafat yang ditawarkan, kemampuannya menghubungkan filsafat dengan persoalan publik, serta dorongannya agar pembaca berpikir lebih kritis.

Adapun kekurangannya, beberapa bagian menggunakan bahasa yang cukup padat sehingga memerlukan konsentrasi dan bekal pemahaman filsafat.

Buku ini layak dibaca oleh mahasiswa, dosen, guru, ASN, aktivis, pegiat literasi, jurnalis, maupun siapa saja yang ingin memperkuat budaya berpikir kritis.

Buku ini mengingatkan kita bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau menjulangnya gedung-gedung pencakar langit.

Kemajuan juga lahir dari warga yang gemar membaca, berani berpikir, dan bersedia berdialog. Sebab, akal sehat, sebagaimana otot, akan semakin kuat jika terus dilatih. (*)

NT
PENULIS

Nalar Timur

Diterbitkan: 1 Agustus 2026 pukul 12.15

BERITA TERKAIT