Timur Bukan Pinggiran, Melainkan Pilar Indonesia
Bung Opichk
Oleh: Bung Opichk
_______________________
“Tidak ada matahari yang terbit dari barat. Setiap pagi, cahaya pertama selalu menyapa timur. Maka terasa janggal apabila masih ada yang memandang timur sebagai halaman belakang negeri ini.”
Ada cara pandang yang perlahan mengakar dalam melihat Indonesia. Peta sering dibaca dari pusat menuju pinggiran, dari kota-kota besar ke pulau-pulau yang tampak jauh di ufuk.
Cara pandang seperti itu melahirkan anggapan bahwa Indonesia Timur hanyalah pelengkap, seolah berada di beranda rumah yang baru disapu ketika tamu datang.
Padahal, sejarah justru menunjukkan hal sebaliknya. Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, nama Maluku, Makassar, Nusa Tenggara Timur, dan Papua telah lebih dahulu bergema di pelabuhan-pelabuhan dunia.
Indonesia memang dikenal sebagai negara kepulauan. Namun, tidak semua menyadari bahwa pada abad ke-15 hingga ke-17, denyut perdagangan dunia berpusat di kawasan timur Nusantara.
Dari pulau-pulau kecil yang diselimuti aroma cengkih dan pala, bangsa-bangsa Eropa mempertaruhkan pelayaran panjang, modal besar, bahkan peperangan. Bukan karena luas wilayahnya, melainkan karena nilai ekonominya yang mampu mengubah arah sejarah dunia.
Nama Ternate dan Tidore telah dikenal jauh sebelum banyak bangsa Eropa memahami secara pasti letak Kepulauan Rempah. Ketika Francisco Serrão tiba di Ternate pada awal abad ke-16, ia menemukan sebuah kerajaan maritim yang telah memiliki jaringan perdagangan luas.
Surat-suratnya kepada Ferdinand Magellan menggambarkan betapa berharganya cengkih Maluku. Kisah itulah yang kemudian mendorong ekspedisi besar Magellan, yang akhirnya diselesaikan oleh Juan Sebastián Elcano melalui pelayaran pertama mengelilingi dunia.
Bagi bangsa Eropa, Ternate dan Tidore bukan sekadar pulau-pulau kecil di ujung timur Asia. Keduanya merupakan kunci perdagangan rempah yang mampu mengubah peta ekonomi global.
Portugis, Spanyol, dan Belanda silih berganti datang bukan karena tanah ini miskin, melainkan karena kekayaannya yang luar biasa. Mereka membangun benteng, menjalin persekutuan, hingga berperang demi menguasai perdagangan rempah.
Hingga kini, puluhan benteng peninggalan Portugis, Spanyol, dan Belanda masih berdiri di Ternate, Tidore, Ambon, Banda, Saparua, serta sejumlah pulau lainnya.
Batu-batu tua itu bukan sekadar sisa bangunan kolonial, melainkan saksi bisu bahwa Indonesia Timur pernah menjadi pusat perhatian dunia. Sedikit sekali kawasan di Asia Tenggara yang memiliki jejak sejarah kolonial sepadat Kepulauan Maluku.
Sulawesi pun memiliki kisah yang tak kalah penting. Selama berabad-abad, Pelabuhan Makassar menjadi simpul perdagangan Nusantara yang mempertemukan pedagang dari Maluku, Jawa, Kalimantan, Semenanjung Melayu, Arab, hingga Tiongkok.
Laut bukanlah pemisah, melainkan jalan raya yang menghubungkan berbagai peradaban. Dari sanalah lahir tradisi pelayaran yang menjadikan masyarakat timur akrab dengan samudra jauh sebelum teknologi modern berkembang.
Di selatan, Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai penghasil kayu cendana yang sejak lama diperdagangkan hingga ke India dan Tiongkok. Sementara itu, Papua memiliki hubungan historis dengan jaringan perdagangan Kesultanan Tidore.
Pada masa kini, wilayah tersebut menjadi salah satu penyangga penting Indonesia melalui sektor perikanan, energi, serta sumber daya mineral yang bernilai strategis.
Indonesia Timur memang tidak lagi diperebutkan hanya karena cengkih. Namun, kawasan ini tetap menjadi fondasi penting perekonomian nasional.
Hilirisasi nikel di Sulawesi dan Maluku Utara, tembaga dan emas di Papua, perikanan di Maluku, migas di Papua Barat, serta pariwisata dan peternakan di Nusa Tenggara menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih banyak bertumpu pada kawasan timur.
Rempah-rempah pada masanya bukan sekadar bumbu dapur, melainkan komoditas strategis yang nilainya dapat menandingi logam mulia. Dari Ternate, Tidore, Banda, hingga pulau-pulau kecil lainnya, rempah menghubungkan petani lokal dengan jaringan perdagangan global.
Laut Maluku menjadi simpul yang mempertemukan pedagang Arab, Gujarat, Tiongkok, Portugis, Spanyol, hingga Belanda. Timur tidak pernah berada di pinggir sejarah; justru berdiri di pusat lalu lintas peradaban.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Fernand Braudel dalam Civilization and Capitalism (1979). Braudel menjelaskan bahwa pusat peradaban tidak hanya ditentukan oleh kekuatan politik, tetapi juga oleh kemampuan suatu wilayah menjadi simpul perdagangan internasional.
Ketika arus barang, manusia, dan gagasan bertemu di satu tempat, wilayah itu memperoleh posisi strategis dalam sejarah. Dalam kerangka tersebut, Kepulauan Rempah di Indonesia Timur bukanlah daerah terpencil, melainkan salah satu simpul penting ekonomi dunia pada masanya.
Karena itu, ketika hingga hari ini masih muncul stereotip atau narasi yang merendahkan masyarakat Indonesia Timur, sesungguhnya kita sedang diingatkan oleh sejarah.
Wilayah yang dahulu diperebutkan kerajaan-kerajaan Eropa justru terkadang dipandang sebelah mata oleh bangsanya sendiri. Padahal, tanah yang sama pernah mengubah peta perdagangan dunia.
Indonesia Timur bukan sekadar kisah masa lalu. Hingga hari ini, kawasan ini tetap menjadi salah satu penyangga utama perekonomian nasional. Lautnya menyimpan potensi perikanan yang melimpah.
Perut buminya mengandung nikel, emas, tembaga, dan berbagai mineral strategis. Hutan, perkebunan, energi, serta sektor pariwisata terus memberikan nilai tambah bagi pembangunan Indonesia.
Kontribusinya mungkin tidak selalu tampak dalam percakapan sehari-hari, tetapi jejaknya hadir dalam penerimaan negara, investasi, lapangan kerja, serta rantai pasok industri nasional.
Pandangan tersebut selaras dengan teori Michael E. Porter dalam The Competitive Advantage of Nations (1990). Porter menjelaskan bahwa keunggulan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya alam, tetapi juga oleh kemampuan mengelola potensi tersebut menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Kekayaan alam yang didukung kebijakan yang tepat, sumber daya manusia yang berkualitas, dan inovasi akan menjadi fondasi daya saing nasional. Dalam konteks Indonesia, kawasan timur merupakan salah satu pilar utama keunggulan tersebut.
Atas dasar itu, memandang Indonesia Timur sebagai beban atau wilayah pinggiran bukan hanya keliru secara moral, tetapi juga lemah secara historis dan ekonomis.
Sejarah telah membuktikan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat perhatian dunia. Ekonomi modern pun menunjukkan bahwa Indonesia Timur tetap memegang peran strategis dalam menopang masa depan bangsa.
Tentu, segala bentuk tindakan yang merendahkan seseorang karena asal daerah, warna kulit, ataupun identitasnya harus ditolak. Namun, penolakan terhadap rasisme tidak perlu dibalas dengan kebencian baru.
Perlawanan itu harus dibangun melalui pengetahuan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kesadaran bahwa Indonesia berdiri di atas keberagaman. Persatuan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk saling menghargai.
Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara membaca peta Indonesia. Jangan lagi memandang timur sebagai ujung negeri. Lihatlah ia sebagai tempat matahari pertama kali menyinari republik ini.
Negeri yang besar bukanlah negeri yang memuliakan satu wilayah sambil mengecilkan wilayah lain. Negeri yang besar adalah negeri yang mampu berdiri tegak di atas seluruh pilarnya.
“Dan salah satu pilar itu bernama Indonesia Timur.”
Nalar Timur
Diterbitkan: 7 Agustus 2026 pukul 20.25
